Teman biasa.
Lihatlah, mata sipitmu yang berusaha membulat ketika menatapku. Kuperhatikan tatapan itu sekali, tatapan yang selalu membuatku jatuh cinta berkali-kali. Kubalas senyummu, dengan senyum yang sama di bibirku. Kuraih bahumu dan merebahkan tubuhku di dadamu. Ah, posisi kesukaanku. Kita terdiam sambil mendengar suara rintik hujan bersahutan. Suara derasnya hujan yang berhimpitan mesra dengan lagu Sampai Menjadi Debu miliki Banda Neira. Kamu bercerita tentang duniamu, tentang manis-pahitnya hidupmu, juga tentang perasaan rindu. Aku bercerita tentang matahari yang beberapa hari ini pergi, tentang bagaskara yang memutuskan untuk meninggalkanku beberapa saat, tentangmu yang tidak memunculkan batang hidung selama ini. Kamulah matahariku dan kepergianmu akan selalu sebabkan mendung di wajahku. Begitu luasnya cinta, begitu sempitnya waktu. Begitu dalamnya rindu, begitu sebentarnya waktu bertemu. Kutatap jam dinding yang hampir menyentuh malam. Kulirik jendela yang menampakan hujan kian mendera...