Teman biasa.
Lihatlah, mata sipitmu yang berusaha membulat ketika menatapku. Kuperhatikan tatapan itu sekali, tatapan yang selalu membuatku jatuh cinta berkali-kali. Kubalas senyummu, dengan senyum yang sama di bibirku. Kuraih bahumu dan merebahkan tubuhku di dadamu. Ah, posisi kesukaanku.
Kita terdiam sambil mendengar suara rintik hujan bersahutan. Suara derasnya hujan yang berhimpitan mesra dengan lagu Sampai Menjadi Debu miliki Banda Neira. Kamu bercerita tentang duniamu, tentang manis-pahitnya hidupmu, juga tentang perasaan rindu.
Aku bercerita tentang matahari yang beberapa hari ini pergi, tentang bagaskara yang memutuskan untuk meninggalkanku beberapa saat, tentangmu yang tidak memunculkan batang hidung selama ini. Kamulah matahariku dan kepergianmu akan selalu sebabkan mendung di wajahku.
Begitu luasnya cinta, begitu sempitnya waktu. Begitu dalamnya rindu, begitu sebentarnya waktu bertemu.
Kutatap jam dinding yang hampir menyentuh malam. Kulirik jendela yang menampakan hujan kian menderas. Waktumu dan waktuku akan habis. Lalu, semakin erat aku memelukmu, seakan tidak ada hari esok. Karena setelah pertemuan ini, aku harus kembali melepasmu pergi, dan terpaksa kehilangan kamu lagi.
Sayang, kautentu tahu, apa yang kita lakukan sungguh jauh di atas ambang batas teman biasa. Sayang, kautahu apa yang sebenarnya aku rasa. Lantas, sampai kapan kauharus pura-pura tak tahu, sosok yang paling mencintaimu-- adalah aku?
Sampai kapan kaumampu menyembunyikan aku, dari semakin dalamnya cinta yang kita punya? Sampai kapan kamu akan menyangkal diri, berbohong pada siapapun, berkata bahwa kita tak memiliki hubungan apapun?
Ya. Akulah "teman biasamu", yang mencintaimu dengan cara luar biasa. Tapi, kamu tidak akan mengerti.
Aku memang teman biasamu,yang mencintaimu dengab cara tak biasa.
Terus saja sembunyikan aku,hingga kau tahu -- akulah temanmu yang sibuk mencintaimu.
- Bogor, 12 Januari 2017
INSTAGRAM: @dwitasaridwita
Komentar
Posting Komentar